Tampilkan postingan dengan label parentingindonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parentingindonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2020

Hati-hati Saat Marah di Hadapan Anak





Siapa nih yang suka kaget dan heran saat melihat si kecil ketika marah kok mirip Ayah atau Bundanya yaa ? ⁣
⁣
Kesel karena plek plek sama. Gemes.. Tapi jadi malu juga yaa.. ⁣
⁣
Hati-hati saat marah Bun, karena diam-diam mereka memperhatikan raut mimik kita, kata-kata, ekspresi, dan perilaku kita. Bahkan, mereka memperhatikan cara kita mengatasi kemarahan juga loh. Dan bukan tidak mungkin, suatu saat mereka akan meniru semuanya saay sedang marah. ⁣
⁣
Tepat banget jika ada ungkapan "Children See, Children Do"⁣
Mereka memang peniru ulung. Jika kita tanamkan kebaikan maka kebaikanlah yang mereka tiru. Namun, jika lebih banyak keburukan, maka yang akan terekam adalah keburukannya. ⁣
⁣
Mendidik anak, memang sebuah proses. Proses untuk mendidik diri sendiri juga. ⁣

Silakan follow akun kami untuk berbagi informasi seputar parenting ya

⁣

Selasa, 07 Juli 2020

Mengajarkan Anak Gagal Itu Perlu



Tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami kegagalan. Namun, kenyataanya roda kehidupan tak selamanya di atas. Akan ada saatnya anak jatuh mengalami kegagalan. ⁣

⁣
Penting untuk membiarkan anak-anak berjuang dan gagal, tetapi tetaplah menjadi support system yang selalu ada untuk mereka. ⁣
⁣
Karena menurut Edward Gaydos, "Pada usia tertentu, manusia sudah harus terbiasa untuk memiliki keterampilan mengatasi masalah," ⁣
⁣
Hal kecil yang bisa Ayah Bunda lakukan misalnya saat anak jatuh dari sepeda. Ayah Bunda bisa bilang ⁣
"Kamu jatuh Nak, Apakah sakit ?"⁣
Ayah Bunda bisa mendekatinya dan megulurkan tangan. Tetaplah ada, namun biarkan ia berdiri dan mengatasi masalahnya sendiri. ⁣

Semoga bermanfaat 

Untuk informasi seputar parenting, silakan follow kami di : 

Senin, 06 Juli 2020

7 Langkah Kelola Inner Child Dalam Mengasuh Anak




Inner Child merupakan mata rantai yang sulit diputus, untuk mengelola dampak negatifnya pada anak-anak, penting sekali untuk mampu mengelolanya. Berikut 7 langkah yang dapat dilakukan untuk mengelola Inner Child : ⁣
⁣
1. Mulailah untuk berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu⁣
⁣Hal ini sangat tidak mudah, apalagi untuk mengingat memori yang kurang menyenangkan rasanya, rasa sedih, kecewa, marah, takut, kesepian, semua terasa menyesakkan dada. Tapi cobalah mengenali rasa itu lagi, terima bahwa kita memang pernah merasakannya. Menyangkalnya berarti sama dengan menyangkal keberadaan inner child dalam diri.⁣
⁣
2. Trying to forgive and let it go ⁣
Fokuslah untuk ikhlas dan bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan di masa sekarang. ⁣
⁣
3. Beri perhatian penuh dan jadikan kehadiran anak sebagai Self Healing ⁣
Mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang tulus kepada anak ternyata bisa menjadi salah satu self healing. ⁣
⁣
4. Identifikasi karakteristik inner child yang kita miliki ⁣
Dengan menggali dan mencari tahu apa yang membuat kita kecewa, sakit hati atau mungkin trauma. ⁣
⁣
5. Lindungi dan rangkul inner child kita ⁣
Kurangi intensitas berada dalam lingkungan yang mengandung ‘toxic situation’ yang dapat memicu rasa sakit hati, sedih, cemas, atau kecewa. ⁣
⁣
6. Gunakan strategi Re-parenting untuk lebih mencintai diri sendiri⁣
Rubah pola asuh turunan yang sebenarnya membuat kita tidak nyaman. Sesekali berikan apresiasi pada diri sendiri berupa membeli hadiah, atau meluangkan waktu me time. ⁣
⁣
7. Bercerita pada orang terdekat yang dipercaya ⁣
Bisa juga konsultasikan masalah ini pada orang yang lebih kompeten seperti psikolog.⁣

Semoga bermanfaat

Untuk informasi seputar parenting, silakan follow kami di :

Minggu, 05 Juli 2020

5 Tanda Membesarkan Anak Manja





Kehadiran anak selalu dinantikan oleh setiap pasangan yang telah menikah. Karena cintanya yang begitu besar, orang tua bahkan rela melakukan apa saja. Mengusahakan mereka untuk mendapatkan makanan bergizi, pendidikan terbaik, pakaian dan tempat tinggal yang layak, dan kebutuhan lainnya. Tidak rela rasanya jika mereka harus kesulitan. Tidak tega jika mereka sakit dan kalau bisa biar kita saja yang menanggung rasa sakitnya. ⁣
⁣
Terlebih jika dulu kita pernah merasakan kesulitan saat masih kecil, pasti kita tidak ingin hal itu dialami oleh mereka. Segala yang tidak kita dapatkan saat masih kanak-kanak, akan kita berikan pada mereka sekarang. Mereka tidak boleh merasakan kesulitan seperti kita dulu. Mereka harus mendapatkan yang jauh lebih baik dari apa yang kita dapatkan dulu. ⁣
⁣
Hati-hati loh Bun, bisa jadi itu hanya ego kita sebagai orang tua, yang belum tentu menjadi kebutuhan mereka. Jangan sampai rasa cinta kita malah membuat mereka menjadi manja. ⁣

Setidaknya ada 5 ciri yang bisa dijadikan patokan, bahwa bunda sedang membesarkan Anak Manja :

1. Membiarkan perilaku nakal anak
2. Tidak merelakan mereka dewasa
3. Tidak berani menyalahkan si kecil
4. Selalu melayani
5. Tidak berani berkata 'Tidak'

Semoga Bunda tidak menjadi salah satu diantaranya yaa
⁣
Semoga bermanfaat ya. ⁣⁣⁣

Untuk informasi seputar parenting, silakan follow kami di :

Sabtu, 04 Juli 2020

Mendidik Tidak Mendadak




Mendidik Tidak Mendadak ⁣
⁣
Setiap orang tua pasti berharap yang terbaik untuk anak-anaknya. Berharap mereka menjadi anak baik, shalih, shaliha, jujur, percaya diri, tangguh dan segala karakter baik lainnya. ⁣
⁣
Untuk mendidiknya, modal apakah yang sudah kita siapkan ? ⁣
Persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk mendidik mereka ? ⁣
Sudahkah kita layak menjadi contoh yang baik ? ⁣
Sudah cukupkah kita mendidik diri menjadi 'baik' ?⁣
⁣
Idealnya adalah didiklah diri kita sebagai orang tua terlebih dahulu sebelum mendidik anak-anak kita. ⁣
⁣
Persiapkan diri kita lebih dulu menjadi orang tua, sebelum mengajari mereka. ⁣
⁣
Children See.. Children Do ⁣
Anak hanya akan meniru apa yang mereka lihat. ⁣
⁣
Jadi yuuk belajar menjadi orang tua yang baik dulu sebelum mendidik anak-anak menjadi anak baik. ⁣
⁣
Waah, kalau sudah terlanjur jadi orang tua tanpa persiapan bagaimana? ⁣
⁣
Pasti banyak yang mengalami hal seperti itu yaa ? ⁣
⁣
Banyak-banyaklah bertaubat. Mengakui akan segala kesalahan kita sebagi orang tua. Minta maaflah pada anak-anak yang mungkin sudah menjadi korban ketidaktahuan kita. Perbaiki diri. Banyak berdo'a, mintalah kekuatan dan kemudahan untuk kita dapat menjadi orang tua yang baik. ⁣
⁣
Kalau dalam Islam dikenal dengan istilah Tazkiyatun Nafs.. Insha Allah pankapan kami akan sharing ya tentang Tazkiyatun Nafs ini. ⁣
⁣
Semoga bermanfaat yaa⁣
⁣
Untuk informasi seputar parenting, silakan follow :

Jumat, 03 Juli 2020

Ciri Pola Asuh Toxic Parents


Bunda, pernah mendengar istilah Toxic Parents ? ⁣⁣
⁣⁣
Akhir-akhir ini isu mengenai Toxic Parents sedang marak dibicarakan. Toxic parents dapat berdampak sangat fatal pada anak. Bahkan pola toxic parents ini seperti lingkaran setan, yang dapat terus diturunkan dari orang tua kepada anak keturunannya. Mengerikan bukan ? ⁣⁣
⁣⁣
Menurut Psychology Today, orang tua yang menerapkan pola asuh toxic parents cenderung tidak menghargai dan memperlakukan anak-anak mereka sebagai individu. Orang tua cenderung tidak mau berkompromi dan tidak bertanggung jawab atas perilaku mereka atau meminta maaf. ⁣⁣
⁣⁣
Apakah kita sudah menerapkan pola asuh yang tepat ? Atau mungkin ternyata ada salah satu dari ciri toxic parents berikut ada pada kita ? ⁣⁣
⁣⁣
1. Toxic Parents cenderung egois dan kurang empati pada anak dan tidak mempertimbangkan kebutuhan atau perasaan anak ⁣⁣
⁣⁣
2. Toxic Parents bereaksi berlebihan (dramatis) atau tidak bisa diprediksi kemarahannya ⁣⁣
⁣⁣
3. Toxic Parents memiliki kontrol yang ketat tanpa kompromi terhadap anak⁣⁣
⁣⁣
4. Toxic Parents jarang memberikan apresiasi dan selalu merasa kurang atas pencapaian anaknya⁣⁣
⁣⁣
5. Toxic Parents akan mencari orang lain atas kegagalan atau kesalahannya ⁣⁣
⁣⁣
6. Toxic Parents cenderung tidak peduli pada kemampuan dan kesanggupan anak mengerjakan sesuatu ⁣⁣
⁣⁣
7. Toxic Parents cenderung mengungkit apa yang sudah dilakukan untuk anak-anaknya ⁣⁣
⁣⁣
Jika ada salah satu ciri tersebut, tidak ada salahnya untuk untuk mulai kita perbaiki. ⁣⁣
⁣⁣
Semoga bermanfaat ya. ⁣⁣

Silakan Follow kami untuk mendapatkan informasi seputar parenting ⁣⁣

Kamis, 02 Juli 2020

Mengapa Harus Belajar Parenting ?



Sebagai bentuk pertanggung jawaban kita, ada baiknya kita persiapkan diri agar layak menjadi orang tua. Bisa dengan cara belajar dari buku, tokoh parenting, ikut seminar atau kajian parenting, dan bisa juga mengikuti kelas parenting online yang waktunya sangat fleksibel. ⁣
⁣
Setidaknya ada 5 alasan berikut ini perlu menjadi pertimbangan untuk belajar parenting⁣
⁣
1. Menjadi orang tua perlu persiapan. Skill menjadi orang tua perlu dilatih ⁣
⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣2. ⁣⁣⁣⁣⁣Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat, tentunya gaya pengasuhan kita pun harus sesuai dengan zamannya.⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
3. Dengan belajar parenting kita dapat merumuskan pola pengasuhan yang sesuai dengan karakteristik keluarga. ⁣
⁣
4. Mengikuti kelas parenting dapat memberikan keyakinan dan kepercayaan diri menjadi orang tua tanpa perlu risih dengan pendapat orang lain. ⁣
⁣
5. Bisa menjadi tempat untuk berbagi, memotivasi dan saling menguatkan dengan orang tua lainnya. ⁣
⁣
Semoga bermanfaat yaa⁣.

Untuk informasi seputar parenting, silakan follow akun Fb atau Instagram kami yaa..

⁣⁣

Parenting Tentang Siapa ?



Parenting tentang siapa ? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Untuk apa sih kita belajar parenting ? ⁣⁣⁣
Buat siapa ya kita belajar parenting ? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Istilah 'Parenting', kata dasarnya adalah 'Parent'. Sesungguhnya parenting adalah ilmu tentang menjadi orang tua. Fokusnya adalah mendidik orang tua, mengajar orang tua, mendidik dan mengajar diri sendiri sebagai orang tua. ⁣ Tidak lagi bicara atau mengeluh :⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
"Anak bawel, bandel, susah diatur, sulit disuruh belajar, melawan, susah bangun pagi, dan berbagai label negatif lainnya. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Stop.. Jangan dulu cap atau labeli anak-anak kita. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kita cek diri kita sebagai orang tua. ⁣ Apakah kita sudah cukup mengenal dan memahami mereka, karakter, kepribadian, potensi bakat dan minat, bahasa cintanya. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Jangan-jangan , selama ini kebawelan mereka adalah potensi bakatnya dalam bidang bahasa ? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Mungkin sulit disuruh belajar, karena kita belum tahu gaya belajar yang sesuai untuknya. Misal anak tipe Auditory, diminta belajar atau mengulang pelajaran dengan cara membaca, tentu itu menjadi tidak menyenangkan untuk mereka. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Anak sulit diatur atau kurang percaya diri, mungkin karena kita belum paham apa bahasa cintanya. ⁣⁣
⁣⁣
Ahh, begitu banyak hal-hal kecil lain yang seharusnya kita sudah paham. ⁣
⁣
Kenali saja diri kita, seperti apa diri kita. Kenali pula ayahnya, seperti apa ayahnya ? Karena, seperti kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak-anak pun pasti tidak akan jauh berbeda seperti Ayah dan Ibunya. Yang menjadi masalah adalah, kadang kita sendiri belum cukup kenal dan paham seperti apa diri kita ?⁣⁣ ⁣⁣⁣

Sumber : @kelasparentingbogor

FB Page : @kelasparenting


⁣⁣⁣

Cara Memberikan Pujian Pada Anak

Setiap orang senang meneriam pujian, tak terkecuali anak-anak. Pujian kepada anak berarti apresiasi terhadap usaha dan prestasi anak. Member...